“Bapak Abdul
Kadir..”
Nama abi pun
dipanggil, kami langsung masuk ke poli. Sebelum masuk ke kamar periksa, kami
menemui suster yang akan mengecek gula darah berserta tensi abi. Disana juga
kita memberikan salah satu kertas dari 3 kertas tadi (kertas kuning kalo tidak
salah) beserta salah satu kertas nomor antrian. Setelah itu kamipun masuk ke
kamar periksa.
Dokter yang
menangani abi saat itu agak galak, galak menurut saya, bukan tegas. Mungkin
memang wataknya seperti itu atau dia sedang pms saya gak tau. Saat itu saya
merasa cukup kesal dihadapannya (saya termasuk orang yang emosian, jadi agak
emosi kalo dikerasin dikit, apalagi sama orang yang gak dikenal).
Singkat cerita,
beliau merujuk abi untuk langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Alhamdulillah, RSCM memberikan pelayanan yang dengan cepatnya sehingga
pengurusan abi saya untuk masuk ke IGD ditangani dengan cepat pula.
Pukul 11.00 wib
(kurang lebih), abi masuk IGD.
Nb:
Di IGD, hanya
boleh 1 orang saja yang menjaga pasien. Selain itu, yang menjaga pasien juga
diminta untuk mengisi data dan akan mendapat name tag dgn jaminan KTP kita.
Tanpa name tag tersebut, kita dilarang masuk. Penjagaan di RSCM ini sangat
ketat, jadi jangan coba-coba.
Instalasi Gawat
Darurat (IGD), ya disini saya kembali harus banyak-banyak bersyukur. Keadaan
ruangan yang sangat besar, dengan pasien yang sangat banyak pula, pasien dengan
berbagai macam penyakit yang diderita. Di sisi kanan terdengar suara alat detak
jantung, disisi lainnya terlihat kesibukan dokter yang menangani pasien cuci
darah, disebelah saya saat itu adalah pasien dengan luka bacok beserta
keramaian polisi yg mungkin mas ini adalah korban kejahatan criminal, dan
keadaan yang mencekam lainnya. Saya hanya bisa mengehela nafas panjang, karna
saya tau abi adalah bagian dari mereka, dan saya tau abi juga dalam keadaan
tertekan saat itu. Saya hanya bisa terlihat baik baik saja di depan abi dan tetap mendampingi abi serta berdoa lagi
dan lagi supaya Allah memberikan kemudahan untuk abi agar segera ditindak.
Untuk memutuskan
tindakan apa yang harus dilakukan untuk abi, para dokter bedah dan penyakit
dalam melakukan observasi mengenai keadaan abi. Ada banyak sekali pertanyaan yang diajukan,
sampai ke hal hal yang sangat detail. Hal ini dilakukan agar menghindari
kesalahan tindakan untuk pasien dan benar-benar pasien dapat ditangani secara
sesuai dan tepat. Observasi dilakukan sekitar 2 jam sampai abi akhirnya diminta
untuk melakukan ter darah dan tes radiologi. Kami harus menunggu hasil dari
kedua tes ini. Siang ke sore, sore ke malam. Setelah kedua tes dilakukan, kami
diminta untuk menunggu. Alhamdulillah, Allah kasih kekuatan saya yang saat itu
sedang berpuasa untuk berdiri tanpa duduk sama sekali selama di IGD, karna
disana tidak tersedia kursi untuk yang menunggu pasien, mungkin agar dokter
bisa lebih leluasa mengurus pasien.
Selama saya
mendampingi abi di dalam IGD, ihsan bertugas untuk bagian eskternal, haha. maksud
saya, dia yang bersiaga diluar menunggu panggilan dari saya kalo kalo saya
butuh sesuatu. Salah satu tugasnya adalah mencari kosan terdekat. Ya, dalam
keadaan membawa 2 koper untuk keperluan kami di Jakarta, dan berhubung
pengobatan abi saat itu diperkirakan akan lama, kami harus segera mencari
tempat tinggal sementara. Sama sekali tidak terpikirkan oleh kami untuk mencari
kosan yang benar benar nyaman atau dengan fasilitas yang lengkap, karna yang
kami pikirkan kami harus siaga menemani abi selama pengobatan, untuk tidur saja
kami gak kepikiran. Asalkan kami bisa menaruh koper (krna koper-koper itu gak
mungkin harus dibawa kemana mana). Kosan yang ihsan dapat yaitu dengan tarif Rp
1.500.000,- untuk 1 minggu. Ini adalah tariff yang paliiinng muraaah untuk
ukuran kosan yang berada disekitar RSCM Jakarta Pusat.
Pukul 20.00 wib.
Hasil rontgen dan darah sudah keluar. Abi diputuskan untuk ambil tindakan operasi
bedah vaskuler. Luka abi harus dibersihkan seluruhny karna luka inilah yang
menyebabkan abi sering deman tinggi disertai menggigil dan keluhan lainnya.
Saat itu saya hanya bisa mengiyakan apa yang dokter katakan, saya hanya ingin
abi sembuh sembuh lepas dari apa yang menyiksanya selama ini. Ya, luka itu. Dokter
meminta saya untuk menandatangani semua surat perjanjian sebelum operasi
dilakukan.
“Dok, saya mau
ayah saya sembuh, tolong lakukan yang terbaik dan maksimal untuk ayah saya,
saya percaya dokter..”
Hanya itu yang
bisa saya katakan kepada dokter yang menangani abi. Dr. Yogi, terimakasih untuk
semua kesabarannya, pertolongannya, serta keramahannya yang membuat abi
benar-benar tenang saat menerima keputusan itu.
Sebelum operasi,
abi diminta untuk berpuasa. Saya sempat kewalahan menghadapi abi yang saat itu
merasa lapar dan haus di jam jam mendekati operasi dilaksanakan. Saya sampai
minta bantuan ke suster-suster disana untuk memberi penjelasan ke abi. Selagi
itu, suster memberikan obat-obatan pra operasi melalui suntikan.
(Bersambung ke part 3)
No comments:
Post a Comment