Sunday, October 23, 2016

Pengalaman di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat (Part 2)

“Bapak Abdul Kadir..”
Nama abi pun dipanggil, kami langsung masuk ke poli. Sebelum masuk ke kamar periksa, kami menemui suster yang akan mengecek gula darah berserta tensi abi. Disana juga kita memberikan salah satu kertas dari 3 kertas tadi (kertas kuning kalo tidak salah) beserta salah satu kertas nomor antrian. Setelah itu kamipun masuk ke kamar periksa.

Dokter yang menangani abi saat itu agak galak, galak menurut saya, bukan tegas. Mungkin memang wataknya seperti itu atau dia sedang pms saya gak tau. Saat itu saya merasa cukup kesal dihadapannya (saya termasuk orang yang emosian, jadi agak emosi kalo dikerasin dikit, apalagi sama orang yang gak dikenal).
Singkat cerita, beliau merujuk abi untuk langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Alhamdulillah, RSCM memberikan pelayanan yang dengan cepatnya sehingga pengurusan abi saya untuk masuk ke IGD ditangani dengan cepat pula.
Pukul 11.00 wib (kurang lebih), abi masuk IGD.
Nb:
Di IGD, hanya boleh 1 orang saja yang menjaga pasien. Selain itu, yang menjaga pasien juga diminta untuk mengisi data dan akan mendapat name tag dgn jaminan KTP kita. Tanpa name tag tersebut, kita dilarang masuk. Penjagaan di RSCM ini sangat ketat, jadi jangan coba-coba.

Instalasi Gawat Darurat (IGD), ya disini saya kembali harus banyak-banyak bersyukur. Keadaan ruangan yang sangat besar, dengan pasien yang sangat banyak pula, pasien dengan berbagai macam penyakit yang diderita. Di sisi kanan terdengar suara alat detak jantung, disisi lainnya terlihat kesibukan dokter yang menangani pasien cuci darah, disebelah saya saat itu adalah pasien dengan luka bacok beserta keramaian polisi yg mungkin mas ini adalah korban kejahatan criminal, dan keadaan yang mencekam lainnya. Saya hanya bisa mengehela nafas panjang, karna saya tau abi adalah bagian dari mereka, dan saya tau abi juga dalam keadaan tertekan saat itu. Saya hanya bisa terlihat baik baik saja di depan abi  dan tetap mendampingi abi serta berdoa lagi dan lagi supaya Allah memberikan kemudahan untuk abi agar segera ditindak.

Untuk memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk abi, para dokter bedah dan penyakit dalam melakukan observasi mengenai keadaan abi.  Ada banyak sekali pertanyaan yang diajukan, sampai ke hal hal yang sangat detail. Hal ini dilakukan agar menghindari kesalahan tindakan untuk pasien dan benar-benar pasien dapat ditangani secara sesuai dan tepat. Observasi dilakukan sekitar 2 jam sampai abi akhirnya diminta untuk melakukan ter darah dan tes radiologi. Kami harus menunggu hasil dari kedua tes ini. Siang ke sore, sore ke malam. Setelah kedua tes dilakukan, kami diminta untuk menunggu. Alhamdulillah, Allah kasih kekuatan saya yang saat itu sedang berpuasa untuk berdiri tanpa duduk sama sekali selama di IGD, karna disana tidak tersedia kursi untuk yang menunggu pasien, mungkin agar dokter bisa lebih leluasa mengurus pasien.

Selama saya mendampingi abi di dalam IGD, ihsan bertugas untuk bagian eskternal, haha. maksud saya, dia yang bersiaga diluar menunggu panggilan dari saya kalo kalo saya butuh sesuatu. Salah satu tugasnya adalah mencari kosan terdekat. Ya, dalam keadaan membawa 2 koper untuk keperluan kami di Jakarta, dan berhubung pengobatan abi saat itu diperkirakan akan lama, kami harus segera mencari tempat tinggal sementara. Sama sekali tidak terpikirkan oleh kami untuk mencari kosan yang benar benar nyaman atau dengan fasilitas yang lengkap, karna yang kami pikirkan kami harus siaga menemani abi selama pengobatan, untuk tidur saja kami gak kepikiran. Asalkan kami bisa menaruh koper (krna koper-koper itu gak mungkin harus dibawa kemana mana). Kosan yang ihsan dapat yaitu dengan tarif Rp 1.500.000,- untuk 1 minggu. Ini adalah tariff yang paliiinng muraaah untuk ukuran kosan yang berada disekitar RSCM Jakarta Pusat.

Pukul 20.00 wib. Hasil rontgen dan darah sudah keluar. Abi diputuskan untuk ambil tindakan operasi bedah vaskuler. Luka abi harus dibersihkan seluruhny karna luka inilah yang menyebabkan abi sering deman tinggi disertai menggigil dan keluhan lainnya. Saat itu saya hanya bisa mengiyakan apa yang dokter katakan, saya hanya ingin abi sembuh sembuh lepas dari apa yang menyiksanya selama ini. Ya, luka itu. Dokter meminta saya untuk menandatangani semua surat perjanjian sebelum operasi dilakukan.

“Dok, saya mau ayah saya sembuh, tolong lakukan yang terbaik dan maksimal untuk ayah saya, saya percaya dokter..”
Hanya itu yang bisa saya katakan kepada dokter yang menangani abi. Dr. Yogi, terimakasih untuk semua kesabarannya, pertolongannya, serta keramahannya yang membuat abi benar-benar tenang saat menerima keputusan itu.


Sebelum operasi, abi diminta untuk berpuasa. Saya sempat kewalahan menghadapi abi yang saat itu merasa lapar dan haus di jam jam mendekati operasi dilaksanakan. Saya sampai minta bantuan ke suster-suster disana untuk memberi penjelasan ke abi. Selagi itu, suster memberikan obat-obatan pra operasi melalui suntikan.

(Bersambung ke part 3)

No comments:

Post a Comment